Dikenal Sadis Sosok Aibon Kogoya, Gembong KKB Papua
Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) salah satunya Aibon Kogoya yang membantai pekerja proyek Puskesmas di Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Jumat (24/11/2023) sore.
Lima pekerja bangunan Puskesmas Beoga Barat, di Kampung Jambul, ditembaki. Akibatnya, tiga pekerja tewas; yakni Satiman, Triyono dan Suyanto.
Sementara dua orang lainnya, Nurali dan Alfian selamat dan dilindungi warga setempat di dalam gereja.
Kapolda Papua Irjen Mathius Fakhiri menyayangkan sikap perusahaan yang mempekerjakan para korban.
Sebab, tidak mengindahkan peringatan dari kepolisian untuk menghentikan aktivitas sementara waktu lantaran adanya potensi gangguan dari KKB, menjelang 1 Desember 2023.
Lantas, siapa Aibon Kogoya?
Aibon Kogoya ternyata kelompok kecil sempalan atau pecahan dari kelompok KKB.
Ia dikenal sadis dan tak segan-segan menyerang aparat keamanan serta warga sipil.
Aibon Kogoya juga dilaporkan menyerang pekerja proyek Puskesmas di Kampung Milawak, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak pada 8 November 2022.
Dalam aksinya tersebut, satu di antara pekerja proyek tersebut tewas. Sedangkan satu lainnya masih dalam penanganan tim medis di RSUD Mimika.
Direskrimum Polda Papua Kombes Faizal Ramadhani menyebut, Aibon Kogoya merupakan anak buah Nau Waker yangberbasis di Intan Jaya.
Sementara Aibon Kogoya sendiri, sambung Faizal, sesungguhnya bukan berasal dari Intan Jaya.
Anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang dipemimpin Nau Waker itu, berasal dari Kabupaten Nduga.
Saat itu, beberapa KKB bergabung di Tembagapura untuk mengacaukan situasi keamanan.
“Saat Tembagapura sudah dikuasai aparat keamanan, kelompok-kelompok itu pecah dan Aibon Kogoya akhirnya bergabung dengan Nau Waker di bawah Kodap VIII yang pimpinan tertingginya adalah Sabinus Waker,” kata Faizal.
Sebelumnya, delapan pekerja jaringan telekomunikasi tewas ditembak KKB Papua di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, pada 2 Maret 2022.
Para korban diserang ketika memperbaiki Tower Base Transceiver Station (BTS) 3 Telkomsel yang lokasinya berada di ketinggian dan belum terdapat akses jalan darat.
Akibatnya, delapan orang tewas dalam peristiwa itu, salah satunya anak kepala suku, Saat melakukan aksinya, Aibon diyakini membawa sekitar sembilan anak buah yang rata-rata memegang senjata tajam. (tt)