Aktivis Papua Merdeka Ones Suhuniap Ungkap Adanya Rasisme di Papua

0

TERASTIMUR.com, JAYAPURA – Aktivis Papua Medeka, Ones Suhuniap mengungkapkan bahwa, orang Papua sendirilah yang menginginkan dan mengizinkan penjajahan itu ada di negerinya.

Menurut Ones, pilihan ada di tangan orang Papua, mau pertahankan Indonesia atau meninggalkan sistem Indonesia.

Ones mengatakan, tujuan Pemilu Indonesia untuk memperkuat kedaulatan, dan melalui Pemilu juga maka orang Papua bisa diberikan jabatan DPR Gubernur dan DPR RI sebagai bukti legitimasi orang Papua memperpanjang dan mempertahankan kedaulatan di Papua.

“Apabila orang Papua sadar tidak perlu memperkuat sistem yang menindas sistem yang membunuh dan sistem memperktekan rasisme serta kekerasan berbasis rasis terhadap orang Papua selama 61 tahun lamanya,” ujarnya, Selasa, (16/01/2023).

Menurut ones, negara dengan hegemoni mampu menciptakan hidup ketergantungan pada sistem Indonesia, sehingga orang Papua memperkuat sistem yang menindas rakyat Papua.

“Seharusnya orang Papua harus ada kesadaran melihat semua kekerasan negara dan pembunuhan secara sistematis dan terstruktur kekerasan militer barbasis rasisis terus terjadi di Papua,” tegasnya.

“Satu pelajaran berharga itu rasisme 2019 dan dikriminalisasi penegakkan hukum terhadap Lukas Enembe hingga meninggal ini menjadi refleksi untuk meninggalkan sistem kolonial,” tambahnya.

Tetapi dengan keterlibatan orang Papua sebagai peserta Pemilu 2024, maka hal tersebut turut memperkuat sistem Indonesia.

“Kita bisa lihat di sepanjang jalan pondok Natal di Papua berganti dengan baliho Caleg DPR,”  ucapnya.

Menurut Ones, karakter orang Papua kerap disamakan dengan binatang.

Soal sasisme yang sangat kejam itu  berdampak, diskriminasi, sentimen subyektif terus dipelihara.

Hal sangat kejam adalah praktek rasialisme  secara sistematis dan  terstruktur akan terus terjadi terhadap bangsa terjajah  selama kolonialisme masih ada.

“Karena praktek rasialisme adalah roh dan ideologi kolonialisme tidak dapat dipisahkan, sekarang orang Papua berlomba lomba memperkuat sistem yang rasisis tersebut melalui Pemilu. Sebab bangsa penjajah itu selamanya merasa diri bangsa superior sementara bangsa terjajah dipandang manusia inferior akan menghadapi rasisme,” ujarnya.

“Saya menulis ini bukan melarang hak demokrasi setiap orang menentukan nasibnya sendiri saya tidak bermaksud malarang atau menghasut dan memprovokasi tetapi ini bagian dari tanggung jawab moral sebagai orang Papua,” tambahnya.

Diakhir perjataanya Ones mengaskan bahwa, sikap yang disampaikan ini sebagai seorang aktivis diharapkan menjadi bahan refleksi buat semua orang pejuang di Papua.

“Bagaimana sikap kita tunjukkan kepada individu sebagai bentuk protes tetapi juga sikap kita menolak sistem yang menindas,” tutupnya.(tt)

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *