Krisis di Tubuh TPNPB-OPM: Logistik Menipis, Perpecahan Kepemimpinan, Anggota Tewas Saling Bunuh
TERASTIMUR.COM – TPNPB-OPM semakin terjerumus dalam krisis internal yang kian terbuka. Kekurangan logistik, perpecahan kepemimpinan, dan arah perjuangan yang tak jelas memicu konflik di dalam barisan, hingga senjata berbalik ke sesama anggota. Dalam waktu singkat, korban berjatuhan bukan karena bentrokan dengan pihak luar, melainkan akibat runtuhnya disiplin dan kepercayaan di tubuh organisasi.
Rangkaian peristiwa di berbagai wilayah menunjukkan pola yang sama. Di Intan Jaya, Teni Kulua dan Pit Nayagau tewas dalam baku tembak antarsesama anggota Kodap VIII, sementara Nato Japugau melarikan diri dengan luka tembak. Di Sinak, Merton Kullua dilaporkan tewas di tengah konflik internal yang dipicu kepemimpinan yang tidak solid. Di Yahukimo, Keas Yabum dari Kodap XVI tewas diduga akibat tembakan rekan sendiri karena ketidakpatuhan perintah lapangan. Di Dogiyai, Lukas Kamo dari Kodap XI Odiyai Dogiyai dilaporkan meninggal setelah diracun oleh rekan sendiri. Deretan kejadian ini menegaskan satu benang merah, krisis dari dalam.
Kematian demi kematian tersebut menjadi indikator runtuhnya soliditas TPNPB-OPM. Saat logistik menipis dan kepemimpinan terpecah, konflik internal berubah mematikan. Alih-alih menguatkan barisan, perpecahan justru menelan korban dari pihak sendiri, menggerus moral, dan memperbesar ketidakstabilan keamanan di wilayah operasi.